Perjalanan Berliku di Jalur Privat , Jatuh bangun di usaha biro privat tidak membuat Beky mundur. Malah sebaliknya, semangatnya terus terpompa untuk membesarkan usahanya.
Mari kita simak liku-likunya.
Menjadi pengajar privat ? Pertanyaan dengan nada sinis ini sering terlontar dari keluarga Beky, menanggapi profesinya sebagai guru les. Asal tahu saja, pria asal Tegal ini adalah alumnus Universitas Indonesia program Instrumentasi Fisika. Meski sempat dipandang sebelah mata, Beky tak bergeming dengan kecintaannya mengajar.Maklum,sejak kecil Beky bercita-cita jadi dosen seperti pamannya,kebetulan pamannyan mengajar di perguruan tinggi terkenal di jakarta.
Awal pertemuannya dengan dunia les privat terjadi ketika Beky mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Dipepet keadaan karena memburuknya keuangan orang tua, memaksa Beky mengajar les privat. “ Waktu itu saya masih kuliah semester tiga dan mengajar tiga murid dari biro privat dengan honor Rp 15.000 per pertemuan,” kenangnya. Uang dari hasil mengajar dipakai untuk membayar kontrakan dan biaya kuliah. Tak disangka, dari tiga orang bertambah menjadi delapan orang pada semester empat. “Karena saya ngajarnya bagus, murid-murid saya bilang ke teman-temannya.” Ujarnya.
Menyadari mencari murid tidak sesulit yang dibayangkan, Kak Beky, panggilan akrabnya mulai lepas dari bayang-bayang biro privatnya. Bahkan ia berencana membuat biro privat sendiri. Maka, digandenglah empat orang teman kuliahnya mendirikan lembaga privat Berdikari. Tak ayal lagi, rumah kontrakan mereka dijadikan markas Berdikari yang berlokasi di Gg. Realita seberang Kampus UI Depok. “Lembaga ini berdiri tahun 1995. Waktu itu mempunyai pengajar sepuluh orang,” tuturnya. Perjalanan Berdikari tidak panjang, karena setahun kemudian lima sekawan tadi sibuk kuliah dan urusannya masing-masing.
Kegagalan tidak membuat Beky menyerah. Setelah Berdikari gulung tikar, ia bersama empat kawannya mendirikan lagi biro privat dengan mengusung nama Excellent UI. Kondisi usaha Excellent UI relatif lebih baik daripada Berdikari. “Kami sudah memasang telepon dan punya komputer,” tutur Beky Namun, lagi-lagi perjalanan usaha tidak berlangsung mulus. Di tengah jalan timbul kecurigaan diantara pengelola akibat tagihan telepon yang membengkak. Akhirnya bubarlah Excellent UI.
Meski menelan pil pahit dua kali, Beky tidak patah arang menggapai manisnya usaha privat. Tahun 1997 ia beirtekad mendirikan biro privat lagi. Kali ini ia mengajak dua orang temannya. Lembaga yang kemudian dikenal SKM UI (Studi Kreativitas Mahasiswa Universitas Indonesia) ini mengambil lokasi di sebuah gang yang letaknya di seberang UI, tak jauh dari lokasi sebelumnya. Namun, belum lama usaha berjalan, kabut tebal menyelimuti SKM UI. Akhirnya dua orang teman Beky mengundurkan diri dan memilih bekerja di perusahaan. “Karena saya sendirian yang mengelola, akhirnya saya cutii kuliah untuk fokus ke usaha. Di samping itu, memang waktu itu saya tidak ada biaya untuk kuliah,” kenang Beky.
Beban operasional SKM UI yang lumayan berat, memaksa Beky pindah ke tempat saudaranya di Cibubur. Jadilah rumah saudara menjadi kantor SKM UI. Namun, keberuntungan nampaknya masih enggan bersahabat dengan Beky. Di rumah ini pun Beky kembali dililit masalah dengan jauhnya kantor di cibubur dengan tempat Beky kuliah. Dalam kemelut yang melilit hidupnya, akhirnya Beky memutuskan hengkang dari rumah saudaranya dan memilih ngontrak di kontrakan tiga petak yang berlokasi di Gg. Material seberang UI.
Beralih Profesi
Situasi sulit yang dihadapi Beky membuatnya bimbang dan putus asa untuk meneruskan usahanya. “ Waktu itu saya sudah lulus kuliah. Jadi sudah harus berpikir gimana caranya dapat uang dan ngirim ke orang tua,” tuturnya. Kebimbingan mengiringi Beky menjadi guru honorer di sebuah SMU negeri di Depok. Namun, perbaikan nasib yang diidamkannya belum juga tergapai. “Ternyata jadi guru honorer sama saja. Gaji saya hanya Rp 40 ribu per bulan,” tuturnya. Untuk mendapat tambahan penghasilan, Beky nyambi jadi Guru di sebuah yayasan. “Kalau di yayasan gajinya lumayan, Rp 240 ribu,” imbuhnya Pendapatan yang jauh dari cukup memaksa Beky mencari tambahan penghasilan untuk menopang hidupnya. Di tengah kesulitan yang menghimpitnya, Tuhan datang memberikan pertolongan. Gaya mengajar Beky yang mudah dipahami, membuat muridnya minta diajar privat olehnya. “Anak-anak yang saya ajar berjumlah 100 orang. Mereka saya kenakan biaya administrasi Ro 30 ribu per orang sebulan,” papar Beky. Namun, keadaan ini tidak berlangsung lama karena kegiatan Beky diketahui kepala sekolah. “Saya akhirnya mengundurkan diri dan fokus ke usaha privat,” tutur Beky.
Back to Private
Bermodalkan satu buah pesawat telepon Beky memulai usaha privat di kontrakannya. Guna mendukung kelancaran usaha ia merekrut seorang karyawan yang menangani administrasi dan telepon masuk. Beky sendiri menangani pemasaran dan penagihan. Tahun pertama (1997) usahanya boleh dibilang lumayan. Murid yang berhasil dijaring masuk sekitar 30 orang dengan mempekerjakan 20 orang pengajar. “Instruktur di SKM UI berasal dari Mahasiswa UI. Saya memilih mereka karena punya kemampuan,” tutur Beky
Mata pelajaran yang diajarkan di lembaga privat ini meliputi bidang eksakta dan sosial dengan anak murid dari SD sampai SMU. Lokasi anak yang diajar privat tersebar di berbagai wilayah. “Biasanya saya menyesuaikan lokasi murid dengan pengajar. Kalau rumahnya murid di Depok, ya saya carikan pengajar yang domisilinya di sekitar Depok,” ungkap Beky.
Pembagian fee untuk pengajar di SKM UI tergolong lumayan besar dibanding dengan lembaga lain. “Saya tidak mengambil jasa banyak ya 70 : 30. Untuk pengajar 70%, 30% untuk SKM UI,” tutur Beky. Prosentase pembagian ini menurutnya banyak dipengaruhi kehidupan pahit yang pernah dialaminya. Namun, setelah membaca buku-buku pemasaran dan mendapat masukan dari beberapa rekannya, prosetase pembagian fee berubah 65 : 35 dan 60 : 40 tergantung track record pengajar.
Menurut Beky, keuntungan yang didapat dari usaha privat lumayan. “Jika murid privat sedikit, paling banter satu bulan keuntungan kami Rp 2,5 juta. Pernah, saking banyaknya murid, SKM UI meraup keuntungan Rp 35 juta satu bulan,” tutur Beky.
Namanya usaha, kadang terang kadang redup. Saat sekolah libur, praktis kegiatan mengajar privat tidak ada. “Biasanya bulan Juni sampai Juli kami tidak ada penghasilan. Untuk menutupi kegiatan operasional kami mengambil dari keuntungan bulan sebelumnya,” tutur Beky. Bulan-bulan tersebut dimanfaatkan Beky untuk menagih uang pembayaran.
Selain masa sepi, seperti usaha kebanyakan pasti punya resiko. Kerugian yang diderita lembaga privat, menurut Beky, biasanya disebabkan pembayaran yang macet. “Klien saya ada yang tidak membayar sampai Rp 4 juta. Tapi ya mau di apaian,” tutur Beky. Hal lain yang menyebabkan kerugian yakni pengajar yang lepas dari biro privat tanpa memberitahu sebelumnya. “Kadang kalau pengajar sudah kenal baik dengan keluarga murid, pembayaran dihandle langsung oleh yang bersangkutan tanpa melalui biro. Praktis lembaga tidak mendapat fee,” ujar Beky.
Strategi
Sampai saat ini, menurut Beky, klien yang menggunakan jasa SKM UI sangat puas. “Bahkan, banyak orang tua murid yang memberi hadiah ke pengajar dan lembaga karena senang melihat kemajuan anaknya,” tutur Beky.
Tidak berlebihan jika anak didik SKM UI berjumlah sekitar 750an orang dengan pengajar yang mencapai 1500 orang. Untuk menjaga kepuasan pelanggan, berbagai strategi pun ditempuh Beky.
Hal yang pertama yang dibenahi yakni masalah administrasi. “Selama ini saya manual melakukan pencatatan. Namun, karena sudah tidak bisa meng-cover, saya membeli komputer empat unit,” tutur Beky. Penggunaan komputer sangat membantu Beky akan database yang rapi dan cepat diakses. Strategi lain yang diterapkan yakni pengajuan proposal ke klien. “Proposal membantu klien yang akan menggunakan jasa kami mengetahui berapa biaya yang harus dianggarkan, dan bagaimana mekanisme kerja kami,” ungkap Beky. Cara ini ditempuh Beky untuk menghindari kemacetan pembayaran.
Untuk pengembangan produk, Beky membuat dua program. Program standar instrukturnya mahasiswa dan programnya plus diajar sarjana. “ Program plus biayanya bisa mencapai dua kali lipat program standar,” tutur Beky. Meski mahal, menurut Beky program plus banyak diminati.
Tidak berhenti sampai di situ, Beky juga melakukan promosi untuk menggenjot angka pemasukan. Promosi yang dilakukannya yakni penyebaran pamflet ke sekolah-sekolah, mengikuti pameran, pemasangan papan nama di jalan, iklan di koran, dan melakukan kemitraan.
Strategi kemitraan yang dijalankan SKM UI lumayan berhasil. “Kemitraan ini mengajak klien kami menjadi pemasar dengan kompensasi sekian persen. Selain itu, kami juga bekerjasama dengan lembaga sekolah dan lembaga lain,” tutur Beky. Namun, menurut Beky, kemitraan dengan lembaga tidak memberikan kontribusi banyak.
Sering dengan bersinarnya usaha, karyawan yang dipekerjakan bertambah menjadi 5 orang satu orang diantaranya berpendidikan SI. Kedepan, untuk mengembangkan usahanya, Beky punya keinginan SKM UI berkantor di Jalan Raya Margonda, Depok. “Prinsipnya lokasi kantor harus dekat dengan kampus UI,” tutur Beky
Pak Beky,
Saya tertarik dengan bisnis anda di dunia pendidikan. Saya juga bergelut di dunia yang sama, namun sepertinya masih harus banyak belajar ya dari pak Beky.
Untuk kursus Latuca, bagaimana peluangnya pak?
By: Agustine on April 29, 2009
at 12:42 pm